Minggu, 04 Maret 2012

Pengen Naek Angkot, Tapiiii...



Salam


Beberapa waktu yang lalu saya sempat membaca artikel kritis seorang Guru Besar UI, Rhenald Kasali yang bertajuk "Kecanduan Minyak". Judulnya sangat menarik dan membuat bertanya-tanya.. minyak apa?parfum?hhiihhii..

Minyak yang beliau maksudkan adalah bensin.
Artikel tersebut menjelaskan secara gamblang bagaimana kehidupan transportasi di Indonesia yang berantakan dan sangat sulit untuk didefinisikan secara lebih cantik (saking buruk rupanya). Mayoritas warga negara kita tercinta selalu menggunakan kendaraan bermotor untuk berpergian, dimulai dari kendaraan pribadi semacam mobil dan motor yang keduanya dapat disebut sebagai salah dua faktor yang menghisap persediaan minyak bumi terbanyak. Selain intensitas penggunaannya, kendaraan pribadi juga sangat 'tidak ramah' minyak bumi karena penggunaannya yang tidak efektif. Sering sekali kita temukan 1 orang mengendarai 1 mobil untuk berpergian atau dalam contoh lain adalah wujud nyata bahwa dalam setiap rumah tangga terdapat banyak sepeda motor, sama dengan jumlah penghuninya atau bahkan lebih dari itu. Setiap orang dalam rumah memiliki satu kendaraan sendiri untuk melakukan rutinitas mereka masing-masing.

Bila sudut pandang ini ditelaah lebih jauh, dapat disimpulkan berapa banyak pemborosan minyak yang dilakukan dalam satu lingkup keluarga? 


Berapa banyak pemborosan minyak dari tiap-tiap SPBU bensin di suatu tempat?

Berapa banyak pemborosan minyak dari satu ruas jalan di sudut kota?

Berapa banyak pemborosan minyak dari satu kabupaten?

Berapa banyak pemborosan minyak dari Provinsi?

Berapa banyak pemborosan minyak dari suatu pulau?daaaan... 

Berapa banyak pemborosan minyak dari 'Suatu Indonesia'??

Wacana naiknya harga BBM dalam beberapa waktu yang akan datang tentu belum cukup mampu untuk mengefektifkan penghematan BBM, dengan alasan 'kecanduan minyak' yang sudah mengakar dalam setiap jiwa penduduk Indonesia. Kecanduan minyak yang sudah mengakar dalam otak kita ini menjadi salah satu biang keladi atas terancamnya jumlah minyak bumi untuk generasi penerus kita. 

Namun di sisi lain, ketergantungan terhadap minyak ini perlu ditinjau lebih jauh mengenai faktor-faktor apa saja yang menyebabkannya. Saya, sebagai bagian dari penduduk Indonesia yang juga 'kecanduan minyak' benar-benar tidak mampu mengatasi kecanduan saya ini. Harus bagaimana ya?
Sering terbesit keinginan untuk memanfaatkan kendaraan umum dalam melakukan aktifitas sehari-hari, tapi...

mungkin sebagian besar dari kita memiliki alasan yang sama. Kita tidak suka memanfaatkan layanan angkutan kota di Indonesia ini karena memang packaging-nya yang jauh dari kata menarik, jalurnya yang sangat terbatas, biayanya tidak lebih murah daripada menggunakan kendaraan pribadi, ditambah lagi dengan tindakan kriminalitas yang umum terjadi dalam angkutan umum, dan juga keamanan berkendara yang sangat minim (terlihat dalam tingkat kecelakaan bus beberapa waktu terakhir). 

Betapa sangat ingin menjauh dari ketidaknyamanan tersebut kan??

Oleh karena itu...
Wajar bila seseorang memilih menyetir mobil berAC walaupun dalam kemacetan daripada menggunakan fasilitas angkutan umum yang mengancam keselamatannya.

Wajar bila seseorang memilih menggunakan mobil sendirian kemanapun walaupun lelah daripada menggunakan kendaraan umum yang rawan pencopetan.




Wajar bila seseorang memilih mengendarai motor sendiri walau harus menerjang sengatan matahari atau dinginnya hujan daripada menggunakan kendaraan umum yang beresiko tinggi untuk mengalami tindakan pelecehan seksual.



Wajar bila seseorang memilih mengendarai motor sendiri walaupun lelah daripada membayar biaya angkutan kota yang beberapa kali lipat menguras uang.

Wajar bila seseorang memilih mengendarai motor sendiri walaupun lelah daripada menggunakan kendaraan umum yang sangat tidak efisien waktu.

Dan tentu saja Wajar bila masyarakat Indonesia 'kecanduan minyak' dalam jumlah yang sangat tinggi.

Memprihatinkan sekali ya?kapan ya saya bisa menikmati kendaraan umum tanpa 'tapi' di dalam hati??iri sekali melihat perkembangan negara-negara tetangga yang kendaraan umumnya tepat waktu, jalurnya menjangkau hampir seluruh kota hingga sudut-sudut terkecilnya, dan banyak hal lain yang terlalu indah untuk ditulis dan dijadikan pembanding dalam tulisan ini. Sudahlah, saya berdo'a saja... 

Semoga Bermanfaat

Tidak ada komentar: